Andai kemeriahan idul fitri ditukar dengan idul adha


"Andai kemeriahan idul fitri ditukar dengan kemeriahan idul adha"

Saya baru dengar konsep ini. Alasan alasan yang diajukan terkesan masuk akal. Namun bertentangan/tidak sesuai dengan kenyataan/kebiasaan yang ada.

Sudah jadi hal yang lumrah ritual mudik demi menyambut hari lebaran terjadi di Indonesia. Para perantau yang bekerja di luar kota jauh jauh hari menyiapkan bekal untuk pulang ke kampung halaman. Pun dengan pemerintah. Pemerintah memberikan fasilitas berupa penetapan hari cuti bersama demi membantu pemudik untuk lebih bisa menikmati waktu bersama keluarga di kampung halaman.

Perusahaan perusahaan pun demikian. Adanya aturan pemberian uang THR, Tunjangan hari raya kepada para pekerjanya, semakin mendukung kegiatan pulang kampung ini setiap tahun.

 Rasanya sudah lengkap. Pemerintah memberikan tambahan hari cuti kepada semua pekerja untuk melaksanakan lebaran. Perusahaan juga memberikan insentif THR kepada pekerjanya. Jadi pas. Pulang kampung dengan kantong tebal untuk dibagikan ke sanak saudara,hehe. Hal ini salah satu faktor kenapa mudik di hari lebaran selalu ramai setiap tahunnya.

Belum lagi persiapan menuju kampung halaman. Beli baju baru untuk ibu bapak, mertua, sanak saudara, anak istri dll. Ada baju, ada juga kue lebaran yang harus disiapkan, jauh sebelum lebaran tiba. Rumah juga direnovasi. Kendaraan diganti dll. Pokoknya demi hari lebaran, semuanya sudah disiapkan. Uang THR, Bonus bahkan tabungan pun dikeluarkan demi hari lebaran itu.

Perjalanan mudik juga tak kalah seru. Ada yang mudik masih d dalam kota, ada yang antar kota, ada yang antar kota antar propinsi, ada yang nyebrang pulau, bahkan ada yang beda negara. Umumnya perjalanan mudik dilakukan satu minggu sebelum hari H lebaran tiba. Ada yang naik motor, mobil, bis, kereta bahkan pesawat. Semua fokus pada daerah tujuannya masing masing.

Well, sampai disini, apakah ada sesuatu yang salah?

Ini bukan masalah benar atau salah. Bukan menyalahkan ritual mudik yang setiap tahun selalu dirayakan. Bukan, tulisan ini bukan untuk saling menyalahkan. Tulisan ini hanya sudut pandang lain dari apa yang "sudah biasa" dikerjakan. Mudah mudahan tulisan ini bisa seimbang.

Kegiatan mudik mengurangi fokus ramadhan
Semua persiapan yang sudah panjang lebar disampaikan diatas, umumnya dilaksanakan beberapa hari sebelum lebaran atau di 10 hari terakhir pada bulan Ramadhan. Padahal, Nabi Muhammad di 10 hari terakhir bulan Ramadhan semakin meningkatkan ibadahnya, salah satu caranya dengan beritikaf di Masjid. Seperti yang disebutkan oleh sabda beliau


Ada hadits yang disebutkan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani dalam kitab beliau Bulughul Marom, yaitu hadits no. 699 tentang permasalahan i’tikaf.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ:- أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ اَلْعَشْرَ اَلْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ, حَتَّى تَوَفَّاهُ اَللَّهُ, ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau diwafatkan oleh Allah. Lalu istri-istri beliau beri’tikaf setelah beliau wafat. Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172).

Dikutip dari  https://rumaysho.com/3506-i-tikaf-di-sepuluh-hari-terakhir-ramadhan.html



Dari hadis diatas, jelas bahwa nabi Muhammad SAW selalu itikaf di 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Kegiatan yang bisa dilakukan selama itikaf yaitu sholat fardhu, sholat sunnah, berzikir, baca Al Quran dll. 

Berdasarkan hadis diatas, idealnya memang, kita umat nabi Muhammad SAW mengikuti jalan beliau, termasuk kebiasaan itikaf. Hanya saja, kebiasaan mudik yang selama ini sudah menjadi tradisi, bisa dibilang menghalangi kita untuk itikaf d mesjid. Apalagi perjalanan mudik yang menghabiskan waktu berhari hari, mustahil untuk bisa melaksanakan itikaf dengan maksimal. Padahal, seperti yang banyak disebutkan dalam hadis, ada satu malam yang penuh keutamaan, yang diturunkan di 10 malam terakhir, yaitu malam Lailatul Qadar. Malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Jadi kan sebenarnya, kita melewatkan 10 malam terakhir dengan kurang maksimal. Kita menyia nyiakan malam yang lebih baik dari 1000 bulan. 

Sikap kita?
Sudah seharusnya Ritual mudik yang selama ini dilakukan di Indonesia di evaluasi pelaksanaannya. Mungkin kebijakan dari pemerintah bisa mengubah jadwal cuti bersama, yang tadinya sebelum hari H diganti menjadi setelah hari H. Dengan demikian, perusahaan perusahaan bisa menyesuaikan libur kerjanya, sehingga pekerja yang muslim bisa memaksimalkan itikafnya di 10 hari Ramadhan. 

Sebagai contoh, di Arab Saudi, khusunya Makkah dan Madinah, banyak Jamaah yang melaksanakan itikaf pada 10 malam terakhir di bulan ramadhan. Konon di beberapa negara timur tengah, kebiasaan itikaf di 10 malam terakhir, sudah mendarah daging dengan mereka. 

Poinnya?
Sekali lagi disampaikan, tulisan ini hanya bertujuan menghadirkan sudut pandang lain tentang kebiasaan mudik di Lebaran.  pelaksanaan mudik menghabiskan banyak waktu, tenaga bahkan uang. Padahal, euforia lebaran hanya berlangsung beberapa hari saja. 

Solusi yang ditawarkan adalah mrngganti kebiasaan mudik di idul fitri untuk diganti di idul adha. Biaya yang ditimbulkan sewaktu mudik lebaran, seandainya sama dan dikonversi menjadi hewan kurban di idul adha, pasti akan menghasilkan jumlah yang fantastis untuk dibagi bagi kepada yang membutuhkan. Ada banyak orang yang akan menikmati daging kurban. Sementara di idul fitri, masing masing kita akan fokus menjalani 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Mudah mudahan busa mendapatkan malam Lailatul Qadar yang merupakan malam yang lebih baik dari malam 1000 bulan. Aamiin

Mudah mudahan tulisan ini bisa bermanfaat , yaa !
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

BTemplates.com

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.
  • ()