Bule Ma’rifat


Bule Ma’rifat


Ada sebuah kisah hikmah yang saya suka sekali mendengarnya apabila diceritakan langsung oleh salah satu ulama terkenal di Indonesia. Sebuah kisah fiksi sih menurut saya. Gak ada di dunia nyata, tapi bisa jadi ada. Mungkin cerita yang saya tuliskan tidak sebaik cerita aslinya apabila diceritakan oleh ulama tersebut. Tapi tak apa lah. Mudah mudahan bisa diambil hikmahnya melalui tulisan sederhana ini. Begini ceritanya.

Alkisah di suatu jalan kota besar indonesia terjadi razia yang dilakukan oleh sekelompok orang. Razia ditujukan kepada orang bule yang berkunjung ke kota itu. Alasannya, karena orang bule itu bukan orang islam, orang “kafir”.

“I’am sorry sir. You are not allowed to visit Indonesia” kata seorang pemuda yang menggunakan kopiah itu.

“why men? Why i am not allowed to visit Indonesia” jawab bule itu dengan setengah marah.

“because you are bule!!” sambung pemuda itu

“Kenapa kalau saya bule?” tanya sang bule yang ternyata sudah fasih bicara bahasa indonesia

“because kamu “kafir!!” jawab pemuda lain yang ikut merazia. Ternyata ia sedang melatih bahasa inggrisnya.

“kenapa kalian bilang saya kafir?” tanya sang bule lagi. Kali ini dia bertanya setengah heran dan setengah marah

“karena kamu bukan Islam!!!” jawab pria berkopiah lain dengan sedikit bersemangat.

“Ya terus?? Apa masalahnya?

Saya juga ciptaan Tuhan. Saya gak memilih lahir dari rahim ibu yang bule. Saya gak memilih lahir dari orang tua yang non islam. Seandainya saya lahir dari keluarga islam, pasti saya jadi islam juga. Justru kalian yang sudah islam duluan, harusnya memberitahu saya apa itu islam. Ajari saya keindahan islam sehingga saya bisa mengenal islam dengan baik. Bukan dengan cara merazia secara kasar begini.

Saya akan adukan kalian semua kepada Allah !!!!” tegas sang Bule memberikan jawaban sambil meninggalkan kerumunan perazia yang sekarang diam terplongo. Mereka baru sadara, ternyata sang Bule, “Bule Ma’rifat” , bule yang lebih mengenal Allah ketimbang para pemuda itu.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Baca juga apakah-umat-islam-menyembah-kabah?

Tulisan ini bukan bertujuan untuk mengunggulkan satu kelompok. Bukan juga untuk menjelekkan kelompok lain. Bukan juga untuk memuja muji atau membela salah satu kelompok. Tulisan ini sekedar perenungan penulis semata. Mudah mudahan ini salah satu point of view dari suatu permasalahan yang bisa jadi pertimbangan.

Tulisan diatas secara singkat mengisahkan seorang bule yang tidak tau apa apa, tetapi malah diperlakukan secara kasar oleh sekelompok orang yang mengaku sudah paling faham tentang agama, dengan cara merazia sekelompok orang di luar kelompoknya. Di akhir cerita, sang bule yang tidak terima dirazia hanya karena dia bule dan “kafir”, akan mengadukan perbuatan kelompok pemuda tersebut kepada Allah. Alasannya, apa yang dituduhkan kelompok itu kepadanya, tidak sesuai keinginannya karena dia merasa keberadaannya di dunia ini berdasarkan “kemauan” Tuhan, yaitu sebagai bule dan “kafir”

Sebenarnya, apa sih itu Kafir?
Agar tidak salah, mari kita dengarkan penjelasannya, langsung dari Ahli nya. Yaitu ceramah ustadz Adi Hidayat. Link nya ada di sini https://www.youtube.com/watch?v=y7aaRfGvKlY

Kafir berasal dari bahasa arab, yaitu berasal kata yaitu Al kufru. Kata kerjanya disebut dengan kafar. orangnya disebut dengan kafir. Jamaknya kafar menjadi kafaru. jamak kafir, orangnya menjadi kafirun.

Al kufru sendiri berarti sesuatu yang tertutup/terhalang.

Ustadz adi memberikan sebuah contoh sederhana. Sebuah spidol. benda yang sama. bila terlihat jelas oleh mata, maka kita tau itu sebagai spidol. namun bila tertutup oleh papan tulis, kita tidak bisa melihat spidol itu. keadaan ini disebut sebagai al kufru, sesuatu yang terhalang. sesuatu yang tidak sengaja terhalang/tertutup. Tetapi bila seseorang sengaja menutupi spidol itu dengan suatu benda, maka kata kerja nya disebut sebagai kafar.

Orang yang sengaja menghalangi dirinya, sehingga dirinya tidak tampak dari orang lain, atau tidak masuk sesuatu hal diakibatkan dia sengaja menutup dirinya, maka orang tersebut disebut sebagai orang kafir. Jadi secara bahasa, kegiatan yang sengaja menutupi diri disebut sebagai "kafar", orang yang melakukan secara sengaja disebut kafir.

Dahulu saat Rasulullah SAW berdakwah di Mekkah, banyak orang yang ingin tau apa yang disampaikan oleh beliau. Banyak sahabat yang mendekat kepada beliau mendengarkan apa yang beliau sampaikan. banyak sahabat yang mempercayai dakwah beliau, namun juga banyak yang tidak percaya dakwah beliau, bahkan menjauhi dan memusuhi Nabi Muhammad SAW. Nah, orang orang yang meyakini dan percaya terhadap dakwah nabi Muhammad SAW inilah yang dibahasakan Allah di dalam Al Qur'an sebagai orang yang "beriman", sedangkan orang orang yang dengan sengaja menjauhi dakwah nabi Muhammad SAW , tidak percaya apa yang disampaikan oleh Nabi, menutup diri dari ajaran Nabi Muhammad SAW, orang orang ini lah yang disebut sebagai orang "kafir"

Dari sini jelas, orang orang yang hidup di zaman Nabi, mereka memang menyadari mereka sebagai orang "kafir" yaitu orang yang menutup diri mereka dari ajaran nabi Muhammad SAW. Mereka tidak tersinggung dengan panggilan ini. Mereka memang sadar bahwa mereka orang yang menutup diri terhadap dakwah nabi Muhammad SAW.

Pointya, mereka tidak marah dengan sebutan ini. Karena memang kata kafir ini merupakan kata yang sopan, kata yang wajar. Kafir menggambarkan orang orang yang tidak menerima dakwah Nabi. 

Coba bandingkan dengan sebutan agama lain untuk menyebut orang orang yang tidak percaya kepada agamanya. Ada sebutan domba tersesat. Bayangkan, manusia disebut domba, tersesat lagi, hanya karena manusia tersebut tidak nasrani. Ada yang menyebut Maitrah. Ada yang menyebut Abrahmacariyavasa. Sebutan sebutan itu untuk menggambarkan orang orang yang tidak mempercayai agama mereka. Sama seperti itu juga, kata kafir juga menggambarkan sebutan untuk orang orang yang tidak mempercayai dakwah nabi Muhammad SAW, orang orang yang menutupi ajaran nabi.

Poin tulisan ini apa?

Menyambung cerita bule ma’rifat diatas, sudah seharusnya umat muslim berdakwah dengan lemah lembut, dengan akhlak terbaik dan pemahaman yang lurus & benar. Orang orang di luar muslim mungkin belum pernah mendengar ajaran ajaran islam yang mulia. Sudah sepatutnya, dakwah disampaikan dengan cara terbaik, dengan hati yang lembut, dengan tutur kata yang terbaik pula. Persis seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Pun juga demikian bagi kalangan non muslim. Arti kafir bukan istilah yang digunakan untuk mengejek ataupun menghina. Justru kata kafir memang menggambarkan keadaan orang di zaman nabi Muhammad SAW yang tidak mau menerima, menutup diri dari ajaran Rasulullah SAW.
Kesimpulannya?

Segala sesuatu harus dikembalikan kepada sumbernya, bukan berdasarkan prasangka. Pun dengan istilah istilah islam lainnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam, tanyakan kepada ahlinya, bukan berdasarkan asumsi asumsi lain.

 Semoga bermanfaat!

Baca juga Ternyata nama Jakarta berasal dari Al Qur'an
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

BTemplates.com

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.
  • ()