DESAIN KESEJAHTERAAN

Tulisan bagus dari Kang Rendy Saputra di akun facebook nya.... Silahkan disimak. 
Di kampus dulu, saya punya mentor rekayasa sosial. Ajaran yang paling Saya gak lupa adalah bahwa... ukuran masyarakat sehat itu hanya berpijak pada 2 hal : keamanan dan kesejahteraan.
Di titik kemanan, sebuah masyarakat membangun sistem pertahanan, supremasi hukum, ketertiban dan berbagai hal terkait dukungan rasa aman.

Di titik kesejahteraan, disinilah berbagai pendekatan dilakukan. Dan seharusnya, ketika kita berbicara tentang kesejahteraan, tugas ini bukan hanya menjadi tugas pemerintah yang jumlahnya hanya 4,5 juta jiwa, tetapi menjadi tanggung jawab bersama 250 juta jiwa penduduk Indonesia.
Salah satu pendekatan dalam mendesain kesejahteraan adalah Produk Domestik Bruto (PDB). Pada tahun 2017, PDB negeri ini sudah menyentuh Rp 13.588,8 T. Ini berarti kita sudah memasuki negeri dengan PDB diatas 1T USD. Nomor 17 Sedunia.
PDB berbicara tentang banyaknya, tetapi kesejahteraan juga harus berbicara tentang kemerataannya. Maka Saya menyederhanakan desain kejesejahteraan dengan dua ukuran besar : BESARAN dan SEBARAN.
Pada ukuran BESARAN, kita harus bekerja keras untuk menaikkan angka 13.588T, karena di titik 13.588,8T, pendapatan perkapita anak negeri hanya sekitar 50 juta setahun atau 3.800 USD. Padahal negara maju membutuhkan ukuran pendapatan perkapita senilai 7.000 USD. Berarti angka 13.588T harus kita develop sampai 26.000T, baru bisa dianggap bangsa sejahtera.
Tetapi untuk apa sebuah BESARAN jika SEBARAN nya tidak merata.
Misalnya nilai PDB di sebuah kampung senilai 1M. Ada 2.500 KK, dan ada 9 keluarga yang menguasai aliran PDB senilai 900 juta, dan 100 juta terbagi-bagi ke 2.491 keluarga lainnya. Di titik inilah kesenjangan terjadi, dan disinilah kemiskinan terasa.
Maka, fikiran kita sebagai anak bangsa harus selalu mengacu pada BESARAN dan SEBARAN.
Tulisan berikut ini adalah usaha untuk menaikkan kedua hal tersebut. Meningkatnya BESARAN dan meratanya SEBARAN kekayaan negeri ini.
*****
BESARAN
1. Meningkatkan daya produksi barang dan jasa.
Strategi pertama ini konvensional. Menaikkan PDB sudah jelas dengan meningkatkan produksi baik pada barang maupun jasa.
Tapi Saya ingin menekankan kesadaran inti dari strategi ini. Kita harus mendorong bagaimana agar seluruh anak bangsa ini memiliki hasrat memproduksi sesuatu. Hasrat BERKARYA. Hal ini harus kita dorong mulai dari entitas terbesar hingga entitas terkecil dalam skala keluarga.
Lahan yang tidur harus diolah menjadi produktif.
Lahan bekas tambang yang teronggok harus difikirkan bagaimana agar bermanfaat. Jangan diam begitu saja.
Potensi alam harus digerakkan menjadi destinasi-destinasi wisata baru, ini akan mendorong jumlah jasa yang dihasilkan dan dibeli.
Satu sel keluarga harus berfikir untuk memproduksi sesuatu. Walau dalam skala kecil dan sederhana, tetapi SEMANGAT untuk membuat dan menjual sesuatu harus didorong dari entitas terkecil bangsa ini.
2. Bergerak mengolah sesuatu ; negara industri.
Setelah semangat membuat, maka selanjutnya harus ada semangat MENGOLAH.
Begini, Anda jualan beras. Anda beli beras dari distributor besar, lalu menjualnya di lingkungan komplek Anda. Ini namanya ambil beras lalu jual beras. Tidak ada mengolah sama sekali. Maka selisih harga yang diambil bisa jadi hanya 2-5%. Konon demikian.
Berbeda jika Anda beli beras lalu jual nasi goreng. Apalagi jika nasi gorengnya Anda jual di outlet yang baik tampilannya, resto, ditambah lagi Anda bumbui dengan konsep branding yang komprehensif. Jadi deh nasi goreng MAFIA. Ha ha ha... beda tuh harganya.
Mari kita ukur nilai si harga jual beras dibanding dengan harga jual nasi goreng.
Misalnya 1 piring nasi sekitar 100 gr beras.
1 kg beras memiliki harga jual end user Rp 14.000,00.
Berarti 100 gr beras nilainya Rp 1.400,00. Ditambah komponen ayam, telor dan bumbu, anggap seluruh bahan baku Rp 7.000,00. Harga jual nasi goreng bisa si Rp 25.000,00 - Rp 30.000,00
Pengolahan membuat nilai ekonominya naik hingga 4x lipat.
Ini kita baru bicara beras, belum lagi kita bicara tembaga. Hari ini kita ekspor tembaga, tetapi kita sedang berniat impor 10.000 km kabel tembaga untuk proyek 35.000 MegaWatt powerplant. Terasa ada yang salah?
Kita mengirim tembaga 1$ dan harus mengimpor kabel tembaga yang harganya bisa jadi puluhan kali lipat.
Kita punya alumunium, mau jual alumunium saja, atau kita jadikan pesawat dulu?
Kita jual besi baja, atau jadikan di baja jadi sasis mobil.. buat rangka turbin... bikin mesin-mesin pengolahan... mana yang sekiranya bisa menaikkan PDB?
Mengolah artinya menambah nilai ekonomi dari suatu barang. Ada proses yang dilakukan atas bahan baku yang ada, menjadi sesuatu yang lebih tinggi nilai manfaat. Inilah semangat dari manufaktur, disinilah semangat dari negara industri.
Ada ukuran sederhana dari kekuatan manufaktur sebuah negeri, yaitu konsumsi baja per kapita. Jumlah konsumsi baja dibagi dengan seluruh jumlah penduduk negeri.
Ukuran standard negara maju adalah 300 kg per kapita. Sudah termasuk konsumsi baja industri, membangun gedung, rumah, jembatan dan lain-lain. Pokoknya dalam setahun, berapa juta ton baja yang terpakai untuk pembangunan, lalu dibagi dengan jumlah penduduk negeri.
Korea Selatan memiliki indeks 1,02 ton per kapita, Jerman 460 kg per kapita, dan Indinesia hanga 4 kg per kapita. Jauh dari 300 kg per kapita.
Indeks ini adalah indikasi dari sejauh mana semangat manufaktur dalam pembangunan nasional.
Selain mengolah langsung, ada pula alur tak langsung yang harus kita cermati.
Kita memiliki sumber daya alam, misalnya batu bara. Ambil batu bara secukupnya, gunakan sebagai tenaga listrik powerplant, gunakan sebagai energi panas peleburan baja, semua kita pakai untuk konsumsi manufaktur dalam negeri.
Dari proses manufaktur tersebut, lahirlah produk-produk unggul ekspor nasional. Maka hitungan nilai ekonomis batu bara bagi bangsa bukan berada pada 100$ per ton, tapi akan lebih tinggi dari itu, karena batu bara yang kita ambil menjadi bahan baku industri nasional.
3. Menargetkan selisih positif ekspor atas impor.
Setelah kita membangun imajinasi sebagai negara industri, maka selanjutnya kita harus berfikir... setelah BIKIN ... JUAL kesiapa?
Yang pertama, jelas untuk kebutuhan domestik, tetapi untuk menambah raihan sales, harusnya kita juga MELAKUKAN apa yang negara maju lain lakukan : berjualan di pasar luar negeri.
Produk asing menyerang market Indonesia. Dari sudut pandang negara mereka, "produk nasional mereka menyerang market asing". Inilah jenis peperangan yang terjadi hari ini : "rebutan market share".
Sekuat tenaga, bangsa ini harus berfikir tentang bagaimana menjual produk dalam negeri ke luar negeri.
Kita pasti butuh beli produk luar negeri. Bisa jadi karena kita gak punya, atau belum bisa bikin, tetapi jangan sampai angkanya melebihi ekspor.
Ekspor 10
Impor 4
Jadi selisih 6
Ini baru OK.
Dalam sebuah cuplikan video pendek Pak Harto, ketika negeri ini swasembada beras, kita sempat "meminjamkan" stok beras kita ke VIETNAM, ke THAILAND... dan negeri-negeri yang memang membutuhkan.
Kejadian itu terjadi pada range 1984 sd 1994, begitu potongan video yang saya simak. Namun apa yang terjadi hari ini, vietnam menjadi negara pengekspor beras terbesar ke-2 dunia. Dan salah satunya ekspor ke Indonesia. Susah menalar apa yang terjadi.... how could it be....
4. Meningkatkan aliran uang masuk dari tenaga kerja dan wisatawan mancanegara.
Setelah kita berbicara tentang produk barang. Mari kita masuk pada pendekatan jasa.
Info dari remintance transferan uang pekerja migran Indonesia di Taiwan, terdapat 1T aliran uang setiap bulannya... masuk ke negeri Indonesia.
Transferan uang cash, langsung masuk ke ratusan ribu keluarga PMI di Indonesia. Aliran ini berasal dari sekitar 260rb tenaga kerja Indonesia di Taiwan.
Lulu Mart, sebuah supermarket milik seorang India-Muslim, telah menjadi jejaring super market besar di timur tengah. Ada yang unik dari Lulu Mart, pekerjanya dominan India, dan dari satu daerah tertentu di Kerwala. Yang menarik, walau mereka bekerja di Lulu mart Dubai, setengah dari gaji mereka ditransfer ke ke rekening keluarga mereka di India. Autodebet. Wajib. Gak boleh menolak. Setengah sisanya bisa dinikmati di Dubai.
Ini adalah pendekatan positif pada pertumbuhan ekonomi. Bisa dijadikan model. Jadikan Indonesia negara penyuplai tenaga kerja profesional ke berbagai negara yang MINUS angkatan kerja produktif. Bahkan bisa jadi perusahaan nasional yang menancapkan kukunya je berbagai negeri. Sambil bawa SDM Indonesia.
Jadikan strategi, bangun lembaga pelatihan yang tepat output. Ajarkan bahasa, keterampilan yang dibutuhkan, bentuk karakter dan mentalnya. 1 tahun beres, kirim ke luar negeri. Solidkan dengan bentuk asosiasi pekerja asal Indonesia.
Bangun koloni. Bangun knowledge management di negeri orang. PASTIKAN karir naik. InsyaAllah SDM negeri ini akan meraih gaji maksimal, dan tentu ada aliran deras ke keluarga mereka di Indonesia. Setidaknya untuk kedua orang tua mereka, sanak saudara, atau bahkan investasi bisnis UMKM di dalam negeri.
Berikutnya adalah membangun aliran wisatawan mancanegara ke negeri ini. Alirkan dengan massive dan penuh strategi program.
Kita sudah punya bandara-bandara besar di negeri ini. Syarat sebagai bandara internasional sudah dimiliki oleh beberapa titik bandara di Indonesia. Tinggal sekarang bagaimana mengalirkan wisatawan dari luar negeri.
Cari objek alam yang bisa digagas jadi destinasi wisata.
Lakukan studi kelayakan dan konsep bisnis pada destinasi tersebut.
Bawa dana investasi untuk set up destinasi wisata.
Bangun pola marketing yang tepat untuk menarik pasar wisatawan luar negeri.
Pastikan wisatawan mancanegara yang hadir ke negeri ini MEBELANJAKAN semua budget wisatanya.
Dan jadikan mereka referral marketing untuk menarik wisatawan asal negara mereka. Rawat tier 1.
Jika 100rb wisatawan dari UAE bisa hadir di Thailand, mengapa hanya 10rb yang mendarat di Indonesia. Kira-kira salahnya dimana ya?
*****
SEBARAN
1. Menambah jumlah pengusaha besar.
Sahabat, beredar di banyak tulisan, silakan saja nanti cek kebenarannya, ada 1% populasi negeri yang menguasai 50% putaran uang. Saya juga belum ngecek... hehehehe...
Andai itu benar... andai lho ya....
1% dari 250 juta ini 2,5 juta orang.
50% dari putaran uang itu kira-kira begini....
13.500T dikurangi 2.500T APBN = 11.500T
ini adalah PDB non APBN, artinya ini belanja swasta non government. Jika setengahnya, berarti sekitar 6.750T berputar di 2,5 juta populasi. Heheheheh... dan 6.750T sisanya beredar di sisa populasi.
Jika ditanya mengapa hanya 1%, curiga hanya memang SEGITU yang berniat melayani pasar dengan SERIUS.
Maka untuk meratakan sebaran kesejahteraan ini, kita perlu MENAMBAH PEMAIN pada MARKET. Dan pemainnya ini haruslah pemain yang berniat membesar.
Omset salah satu brand ayam goreng waralaba asing mencapai 4T lebih, digarap dengan 500 outlet lebih. Kabar gembiranya, hari ini hadir ribuan outlet "ayam goreng brand nasional" yang berjuang meraih serupiah demi serupiah dari 4T ini. Marketsharenya sedang dilayani rame-rame.
Kompetisi ini mendorong lahirnya kualitas layanan prima ke pasar. Disisi lain, sebaran omset yang tadinya dikuasai oleh segelintir pihak, kemudian terbagi ke beberapa pemain.
Disinilah peran dan niat dari Serikat Saudagar Nusantara (SSN). Kita lagi pengen banyakin pemain besar.
2. Membangun regulasi PRO pemerataan.
Begini, kita gak bisa maksa yang besar untuk membagi marketnya ke pengusaha lainnya. Di alam bisnis ini, kita sebagai entrepreneur medium gak bisa ngomong ke yang besar-besar : "bagi marketnya donk om..."
Kita mungkin gak bisa, tetapi PEMERINTAH bisa. Hehehe....
Tenang dulu ya... yang besar-besar tenang dulu...
Di berbagai negara maju, contoh saja Amerika serikat, Swasta Nasionalnya didukung pemerintah untuk jualan ke negara lain. Inget gak Pak Obama nemenin Boeing MoU pembelian pesawat oleh LION di Denpasar?
Jadi narasinya begini.... perusahaan besar kita minta untuk mendelegasikan beberapa proses bisnisnya ke perusahaan rekanan nasional. Tetapi balasannya, bantu swasta nasional raksasa untuk raih pasar internasional.
Misalnya, 6000T dishare sebagian ke pengusaha menengah. Anggap lah proses 3000T dibagi ke pengusaha nasional level dibawahnya. Tetapi pemerintah membantu swasta nasional raksasa untuk meraih total 50.000T ke luar negeri. Pakai tangan pemerintah. Jika kejadiannya G to G... pasti dampaknya berbeda.
Sensitif bahas regulasi pro pemerataan. Intinya semangatnya itu. Semua bahagia. Ini memang tugas berat pemerintah, yang besar bahagia, dan yang menengah juga bahagia.
3. Mensiasati konsep kepemilikan dari private ke koperasi.
Jika suatu perusahaan besar punya revenue 1T, anggaplah cost operasinya 700M, maka keuntungannya 300M. Si 300M inilah yang masuk kantong sang pemilik. Jika pemiliknya 9 perusahaan raksasa, maka 300M masuk ke 9 kantong.
Bayangkan jika perusahaan ini dimiliki oleh koperasi. Saham koperasi 70% dan manajemen 30%. 70% dari 300M itu 210M... lalu anggota koperasi yang punya saham ada 210.000 orang. Kebayang 1 orang dapat berapa kan? 1 juta per orang bagi hasil usahanya.
Proses bisnisnya sama...
Keuntungannya sama...
Tapi sebaran dari keuntungan tersebut mengalir ke banyak orang...
Yang kita OPERASI adalah pola KEPEMILIKANNYA.
Bangsa ini punya populasi besar. Akan ada 195 juta angkatan produktif di 2030. Jika ada koperasi perserikatan swasta nasional yang anggotanya 20 juta orang, ketika masing-masing urunan 1 juta rupiah, maka dalam 1 malam, sudah terkumpul 20T.
20T itu.. Anda bisa beli 30 pesawat boeing 737-800 dalam 1 malam.... bayangkannnnnnnnnnnnnn......
Tinggal konsep koperasinya. Alangkah baiknya... koperasi membentuk PT terpisah. Koperasi punya saham 70-80%, 30-20% serahkan ke para CEO yang mengelola PT.
Para BOD adalah orang-orang yang ngerti natural bisnisnya. Pilih BOD yang bisa eksekusi bener. Konteskan aja. Dengan begini bisnis akan berlangsung akuntabel, lurus dan menghasilkan.
Bisa gak yah.. koperasi 20 juta anggota? Hehehehe....
******
Panjang ya Saya nulis, pokoknya Saya akan tuliskan terus fikiran-fikiran Saya. Topik tujuannya cuma satu : NEGERI BERDAYA. Kuat ekonomi. Kuat pertahanan. Kuat ikatan sosial.
Kita sudah menbahas diatas, bahwa untuk menjadi negara maju, kita butuh PDB di angka 26.000T, agar pendapatan per kapita kita berada di 7.000 USD.
Hari ini PDB kita di 13.588T. Jika pertumbuhan ekonomi hanya 5%, maka itu sekitar 600T.
Anggap kita tumbuh konstan 600 T per tahun, maka untuk menuju 26.000 T, kita masih butuh 20 tahun lagi. Saya yakin gak selinier ini. Kemungkinan bisa 15 tahun. Tapi tetap aja... lamaaaaaa.....
Menurut Saya, ketika kita mampu bekerja sebagai tim, antara swasta nasional dengan pemerintah, kita bisa sama-sama kejar pertumbuhan ekonomi nasional lebih dari 5% pertahun. Bahkan bisa 10% lebih...
Asalkan kita kompak... solid.. politik stabil... fokus added value.. pinter jualan... lincah.. gesit.. dan gigih berjuang di medan dagang dunia.
Sekali lagi, mari kita sadari, bahwa kerja pertumbuhan ekonomi nasional bukan hanya tugas pemerintah. Karena memang ia adalah akumulasi kerja seluruh anak negeri.
Menuju PDB Negeri 26.000 T
Lebih cepat... segera...
Narator Bangsa,
Rendy Saputra
"Yang besar pasti butuh yang kecil, supaya yang kecil tetap bisa belanja ke yang besar. Kalo yang kecil mati, yang besar akan ikutan juga..."
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

BTemplates.com

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.
  • ()