Kisah Adi dan Ade tentang Allah yang Maha Baik


Ini juga salah satu kisah yang saya sukai dari ceramah salah seorang ulama tersohor di Indonesia. Gaya bahasa cerita beliau mudah dan sederhana, membuat siapapun yang mendengar ceramah beliau mampu memahami nya dengan mudah. Mudah mudahan Allah muliakan beliau dan keluarganya. Aamiin. Mudah mudahan cerita yang saya tuliskan ini tidak mengubah makna aslinya. Begini ceritanya.
Gambar hanya ilustrasi

Alkisah Adi, seorang anak kelas 3 SD yang akan pergi berdarma wisata ke suatu tempat liburan. Acara yang diadakan oleh sekolahnya ini mewajibkan iuran kepada sebesar Rp 150.000 untuk keperluan tiket dan konsumsi. Datanglah ia menghadap ayah nya untuk meminta iuran tersebut.

"Ayah, ada yang adi pengen minta ke ayah.", pinta adi kepada ayahnya yang sedang membaca buku.

" Iya Adi. apa yang mau adi minta?" tanya ayahnya sambil tersenyum dan menutup buku yang sedang dibacanya dan fokus menatap Adi. 

"Ini ayah. kan minggu depan, di sekolah kan ada acara darma wisata ke kebun binatang. Ini ayah, maksudnya, adi mau minta uang iurannya ayah. iurannya 150 ribu." pinta adi dengan setengah malu. 

"Adi, untuk bisa pergi ikut berdarma wisata, bukan uang yang menentukan, Di. Tapi takdir Allah. Kalo Allah sudah menakdirkan Adi berangkat pergi darma wisata minggu depan, minggu depan Adi pasti berangkat kok. Gak mesti pakai uang.”  jawab ayahnya meyakinkan dengan senyum yang manis.

“Hem... begitu ya yah. Tapi yah, kata ibu guru, kalo mau berangkat darma wisata, harus bayar iurannya dulu yah. Kalo gak bayar,  gak bisa ikut darma wisata yah” jawab adi beralasan.

“Bukan Adi. Yang membuat Adi bisa berangkat darma wisata itu bukan uang Di, tapi karena takdir Allah. Kalo Allah sudah takdirkan Adi berangkat, adi pasti berangkat kok.”

“Beneran yah?” tanya adi ragu ragu.

“Insya Allah Di. Bila Adi sudah ditakdirkan berangkat, Adi pasti berangkat kok. Sekarang tugas adii, ambil wudhu sana dan segera sholat sunnah. Minta ke Allah Di. Mudah mudahan takdir Adi bisa berangkat. Cepetan giih." ucap ayahnya sambil tersenyum. 

"Tapi yaaah... " potong adi dengan wajah sedikit memelas. 

"Udah di. ayo segera dikerjakan sana" jawab ayahnya dengan raut muka tersenyum.
Adi pun lalu mengerjakan perintah ayahnya dengan sedikit bermalas-malasan. Ia mengerjakan sholat sunnah dua rakaat dengan sedikit terpaksa.

“Ya Allah, saya ngelakuin perintah Ayah saya ya Allah. Saya minta ya Allah, kasih uang saya ya Allah untuk bisa ikutan darma wisata ya Allah” itu Doa adi setelah sholat sunnah.

“Hus.... adi. Jangan gitu doanya Di. Minta ke Allah takdir terbaik di.” Kata ayahnya menimpali doa adi.

“Ya Allah.. kabulkan sesuai kata Ayah Adi ya Allah”

“Adiiiii.... jangan gitu doanya Di”

“ ya Allah. Adi minta ditakdirkan takdir terbaik ya Allah. Aamiiin.”

Adi pun selesai berdoa dan langsung tidur. Ibunya Adi yang mendengar percakapan antara suami dan anaknya itu langsung ngobrol dengan suaminya itu.

“Yah ayah. Adi kok sudah disuruh gitu yaah. Kasian adi yah” ucap ibu adi yang memulai pembicaraan.

“Gak pa pa bu. Kita usahakan sedini mungkin mengajari Adi tentang ilmu tauhid bu. Ilmu tentang bagaimana mengenal Allah bu. Biar Adi semakin mengenal Allah bu. Apa yang adi dapatkan di hidupnya nanti, itu semua pemberian dari Allah bu.”

“Tapi yah.. Adi kan masih kelas 3 SD yah.”

“gak pa pa bunda Adi yang solehah. Percaya deh sama ayah.” timpal ayah adi dengan senyuman manis.

“Iiih ayah.. apaan sih yaaah” jawab ibu adi malu malu.

Malam pun semakin larut. Adi makin terlelap di tidur panjangnya.

Keesokan harinya, ibu Guru mendata murid murid yang membayar uang iuran darma wisatanya. Ternyata, hanya Adi dan satu orang temannya yang belum bayar iurannya.

“Adi. Kapan adi bayar uang iuran darma wisatanya Di?” tanya Bu guru kepada Adi.

“Nah itu dia bu Guru. Kata Ayah Adi, untuk bisa berangkat darma wisata, yang dibutuhkan bukan uang bu, tapi takdir Allah Bu.” Jawab Adi dengan polos
“Tapi kan Di. Adi harus tetap bayar Di”

“Itu diaaaa Bu. Saya juga sebenarnya bingung Bu. Pokoknya gitu lah bu” jawab Adi dengan bingung.

“Ya sudah Di. Gak pa pa. Ibu tunggu paling lambar 2 hari lagi ya uang iurannya”

“Baik Bu”


Jam sekolah telah selesai. Adi dan teman temannya pulang ke rumah. Tak seperti teman temannya yang senang karena akan pergi darma wisata, Adi pulang ke rumah dengan sedikit murung. Ternyata langkah Adi yang gontai diperhatikan oleh ayah Ibunya.

“Adiii, kemari Di.” Ayah adi memanggilnya dari ruang tamu. Adi masih asyik membaca buku di kamarnya.

“iya yah. Adi kesana yah” jawab Adi dengan semangat.

“Di.. ini ada uang Rp 150.000. Terima ini ya Adi, ini untuk bayar uang iuran darma wisatanya”

“Alhamdulillah.. akhirnya Ayah kasih uang iurannya”

“tapi Di... Itu bukan untuk Adi, melainkan untuk teman Adi yang gak bisa bayar uang iurannya. Kan kemarin Adi bilang ada 1 orang teman yang gak bisa bayar uang iurannya. Jadi uang itu Adi pakai untuk bayar iuran teman Adi ya”

“Lah, uang iuran untuk Adi mana yah? Kan harusnya 300 ribu. Untuk Adi dan 1 orang teman Adi”

“Adiii.. masih inget apa yang ayah bilang kemarin malam?”

“Maaa....siii...h yah.” Reaksi adi jadi tidak bersemangat. “Untuk bisa berangkat, bukan uang yang menentukan, tapi takdir Allah”

“Tuh Adi masih inget. Jadi, besok bayarin ya, untuk iuran teman Adi”

“Baik Ayah” Adi pun mengiyakan ucapan ayah nya dengan sedikit bingung.


Keesokan harinya, seperti biasa murid murid belajar dengan baik. Cuaca nya cukup cerah. Matahari kelihatan malu malu muncul dari balik awan. Terdengar kicauan suara burung di atas pohon yang terletak di depan ruangan kelas Adi. Tibalah saat Bu Heni, koordinator darma wisata datang ke kelas Adi. Kedatangannya sudah jelas, menagih uang darma wisata.

“Anak anak, ada yang mau bayar uang iuran lagi kah?” tanya Bu Heni dengan suaranya yang ramah. Terlihat Adi berjalan menuju meja Bu Heni yang terletak di depan kelas sambil merogoh kantung celananya.

“Ya Adi, kemari Adi. Alhamdulillah ya Adi. Sekarang sudah punya uang untuk pergi darma wisata”

“Iyaa, Alhamdulillah Bu. Tapi Bu guru, ini bukan untuk Adi Bu Guru. Ini buat Toni. Kan kemarin Toni bilang dia tidak bisa ikut darma wisata karena gak bisa bayar uang iurannya bu.”

“trus, uang iuran Adi mana?”

“Itu diaaaaa bu Guruuuu. Saya sebenarnya juga tambah bingung lagi Bu guru. Ayah bilangnya uang nya untuk Toni Bu. Kalo Adi, selama ada takdir Allah untuk Adi berangkat, pasti berangkat bu, meskipun gak bayar iurannya Bu” jawab Adi sedikit memelas.

“ begitu ya Di. Ya sudah adi. Ibu tunggu deh kapan Adi bayar iurannya. Paling lambat sebelum berangkat darma wisatanya” jawab Bu Heni yang berusaha menutupi kebingungannya.

Bel pun berbunyi tanda jam pulang sekolah. Anak anak segera berkemas untuk pulang ke rumah masing masing.

Kondisi di rumah Adi juga tak jauh berbeda. Ayah Adi tetap meyakinkan Adi. Bahwa yang bisa membuat Adi berangkat darma wisata, bukan uang iuran, tapi karena takdir Allah. Adi pun hanya bisa berusaha memahami maksud ayahnya.

Tibalah hari itu. Hari dimana anak anak akan pergi berdarma wisata tepat pukul 8 pagi. Titik kumpul untuk pemberangkatan adalah di sekolah. Tapi tidak dengan Adi. Setelah sholat subuh, Adi tidak bergegas menyiapkan perlengkapannya.

“Adi, kenapa tidak siap siap berangkat ke sekolah? Kan hari ini jadwalnya pergi darma wisata.”

“Ayah, kan adi belum bayar iurannya. Jadi udah pasti gak bisa ikut yah.” Nampaknya Adi sudah tidak yakin bisa pergi darma wisata disebabkan belum bayar uang iurannya.

“Adiii.. kan kemarin Ayah bilang. Yang membuat Adi bisa berangkat, bukan uang iurannya Di. Tapi takdir Allah. Kalo Allah takdirin Adi pergi, pasti Adi juga ikut darma wisata. Sekarang Adi mandi dan berangkat ke sekolah.”

“Baik yaaah” Adi kali ini tetap menuruti ucapan ayahnya.

Jam menunjukkan pukul 7 pagi, masih ada waktu 1 jam sebelum keberangkatan. Adi pun berpamitan kepada Ibu Bapaknya.

“Assalamu’alaikum Bu. Assalamu’alaikum yah. Adi berangkat dulu ya” Adi mencium tangan ibu bapaknya sebelum berangkat.

“Wa’alaikumsalam Di. Hati Hati di jalan yaaaa”. Ibu bapak Adi melihat anaknya sampai menghilang di pandangan.

“Bu. Kalo sampe jam 10 Adi sudah pulang, berarti takdir Allah, Adi tidak jadi berangkat bu. Tapi kalo jam 10 Adi tidak pulang, berarti takdir Allah, Adi berangkat bu.”

“Iya yah. Mudah mudahan Allah selalu membimbing dan melindungi Adi ya yah”

“Aamin bu”

Tiba lah Adi di sekolahnya. Anak Anak sudah berbaris rapi dan memasuki Bis yang sudah disediakan. Adi hanya bisa memandangi teman temannya yang tertawa riang sewaktu memasuki bis.

“Adi.. kenapa gak masuk ke Bis.” Tiba tiba Ibu Heni menyapa Adi dari belakang.

“Ini bu guru. Kan Adi gak bayar uang iurannya. Jadi saya gak masuk Bis. Saya datang ke sekolah karena di suruh Ayah Bu” jawab Adi dengan wajah sedih.

“Heeem... gitu ya di. Ya udah, kami berangkat ya Di”

“Iyaa Bu” jawab Adi tambah sedih

Bis pun mulai bergerak dan meninggalkan halaman sekolah. Anak anak tertawa riang dari dalam Bis. Mereka melambai lambaikan tangannya ke arah Adi, termasuk anak yang dibayarin oleh Ayah Adi. Adi pun hanya bisa memandang bis dan teman temannya. Adi termasuk anak yang kuat. Hatinya tetap kuat. Kali ini dia mengingat ucapan Ayahnya. Yang membuat dia berangkat bukan uang iuran, tapi takdir Allah.

10 menit kemudian, sebuah mobil Pajero hitam keluaran terbaru dengan sedikit agak ngebut berhenti di halaman sekolah.

“Adi Adi Adi. Kamu ngapain disini? Kenapa gak berangkat darma wisata?” tanya Ade dari dalam mobil. Ternyata Ade sedang diantar oleh mama nya ke sekolah.

“Iya De. Saya kan gak bayar uang iuran. Jadi saya gak bisa ikut darma wisata De” jawab Adi dengan tegar. “Kamu sendiri De, kenapa masih disini?” tanya Adi kepada Ade

“Iya Di. Saya kira berangkatnya jam 8.30 Di. Jadi saya agak telat persiapannya Di”

“Oh gitu ya De”

Dari dalam mobil, Ade ditanyai oleh mama nya.
“De, itu siapa De? Kenapa dia gak ikut darma wisata?”

“itu Adi ma. Dia gak bayar uang iurannya ma. Jadi Dia gak ikut ma”

“Gitu ya De. Hemm.. De, panggil Adi masuk mobil Nak. Kita susul temen temen ke kebun binatang, tempat darma wisatanya De” perintah mama Ade untuk mengajak adi masuk mobil.

“Di, ayo sini masuk mobil Di. Kita susul teman teman kita ke kebun binatang Di”

“Beneran ini De? Beneran tante?” tanya Adi dengan wajah berbinar binar seakan tak percaya.

“Beneran Nak. Ayo sini masuk” Jawab mama Ade meyakinkan. Akhirnya, Mobil itu pun melaju ke kebun binatang, tempat darma wisata.

Jam sudah menunjukkan pukul 10. Ibu Adi menanti dari balik jendela dengan harap harap cemas, memikirkan anak yang dicintainya itu.

“Sudah Bu. Jangan khawatir Bu. Adi sudah berangkat ke kebun binatang bu.” Ayah adi coba menenangkan ibunya.

“Iyaaa. Mudah mudahan ya yah. Mudah mudahan Allah selalu menjaga dan melindungi Adi ya yah”

“Aamiin”


Sementara itu dari dalam mobil, butiran bening mengalir dari mata Adi. Tangisnya yang sedikit terisak itu diketahui Ade.
“kamu kenapa Di? Kok nangis?” tanya Ade penasaran. “kamu belum pernah naik mobil bagus ya?” Ade coba bercanda untuk menghibur adi. Kali ini isakan tangis Adi semakin kuat.

“Allah Maha Baik De” isakan tangis adi terdengar makin kuat.

“iya, Allah maha Baik. Tapi kenapa Di? Aku bingung, tolong dijelaskan”  tanya Ade semakin penasaran. Ibunya Ade yang menyetir mobil juga penasaran kenapa Adi menangis.

“jadi gini de, tante. Sebelum berangkat darma wisata, saya minta uang iuran ke ayah. Tapi ayah bilang, untuk bisa berangkat darma wisata, yang menentukan berangkat itu bukan uang. Tapi takdir Allah. Makanya Ayah gak kasih uang iurannya De. Saya juga awalnya bingung De gimana caranya. Tapi sekarang Ayah benar De. Allah maha Baik De. Temen temen yang bayar semuanya naik bis yang pas pasan De. Ac bisnya juga kemungkinan gak Ada. Nah saya sekarang, gak perlu bayar, tapi bisa berangkat. Gak kepanasan, tapi nyaman dengan AC mobil ini De” jawab adi sambil mengusap air matanya

“ooooo... gitu yaaa. Ya ya Di. Allah Maha Baik ya Di.” Jawab mama Ade yang menyimak jawaban Adi. “Didepan ada toko makanan, Tante berhenti dulu beli makanan untuk kalian ya.”

“iya tante” jawab Adi yang ternyata belum berhenti nangisnya.

20 menit kemudian, mama Ade kembali dengan 2 bungkusan besar yang berisi makanan.

“Ini De, Ini Di makanannya. Silahkan dimakan makanan yang disukai ya”

“Baik Ma. Baik Tante” jawab adi dan ade dengan serentak. Kali ini tangisan adi berlanjut lagi. Sekarang isakannya malah lebih keras.

“Adiii... udah dong nangisnya. Dari tadi nangis terus”. Sekarang isakan tangis adi malah lebih keras. “Emang kenapa lagi Di? Belum pernah makan makanan enak ini ya?” tanya ade penasaran sambil bercanda.

Sambil menahan tangisnya, Adi mencoba menjawab. “De, teman teman kita yang bayar sekarang belum tentu dapat makanan dan minuman sekarang di bis. Sedangkan saya yang gak bayar, malah sekarang dapat makanan dan minuman yang enak. Ini yang buat saya tambah bersyukur ke Allah De. Allah itu Maha Maha Baik De”. Tak terasa air mata mengalir dari kedua mata Ade dan mamanya. Iya, Allah memang Maha Baik.

Mobil pun terus melaju ke kebun binatang dengan persediaan makanan dan minuman yang cukup untuk perjalanan pergi dan pulang. Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Kegiatan darma wisata pun selesai. Anak Anak berjalan pulang ke rumah masing masing.

“Assalamu’alaikum.” Adi mengucapkan salam di depan pintu rumahnya sambil berlari ke dalam mencari Ibu dan ayahnya.

“wa’alaikum salam. Eh Adi udah pulang” jawab ayahnya

“Ayaaaaaaaaaaaaaaaaah. Ibuuuuuuuuuuuuuu” Adi berlari dan memeluk ibu bapaknya. “Allah Maha Baik yah. Allah maha Baik Bu” tangis Adi pecah. Air mata keluar sederas derasnya.

Iyaaa Di. Allah Maha Baik” Tangis Ayah ibu nya pun pecah. Adi menceritakan kejadiannya dari awal dengan penuh haru.

Yaaa... Allah Maha Baik. J




Share:

0 komentar:

Posting Komentar

BTemplates.com

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.
  • ()