Sudah tunangan, tapi dia belum jadi istrimu.

Di beberapa daerah, ditemukan sesuatu kebiasaan yang tampaknya sudah lumrah di masyarakat, yaitu tunangan. Tunangan biasanya dilakukan antara seorang laki laki dengan seorang wanita yang serius untuk menikah. Acara tunangan sepertinya sudah merupakan suatu kewajiban bagi pasangan yang akan menikah. Bila ingin menikah, ya harus tunangan dulu. Begitu kebiasaannya. Lantas, apakah ada yang salah dengan kegiatan tunangan ini? Mari kita bahas bersama.


Prinsip hukum nya seperti yang sering dibahas oleh ustadz adi hidayat, suatu hukum tidak bisa diterapkan untuk menghukumi benda. Contoh mudahnya seperti ini.

"apa hukum nya pisau? "

Jawaban untuk pertanyaan ini tidak ada, karena memang pertanyaan nya rancu/ngambang. Tapi pertanyaan tsb akan sedikit berbeda bila dilengkapi seperti berikut.

"apa hukumnya pisau yang digunakan untuk memotong hewan kurban?"

Jawabannya pasti pisau itu bermanfaat dan pemakainya dapat pahala. Akan beda hasilnya bila pertanyaannya diubah.

"apa hukumnya pisau yang digunakan untuk membunuh?
Jawabannya pasti pisau itu haram, dan pemakainya berdosa.

Nah dengan alur pemikiran seperti ini, kita bisa menganalisis apakah hubungan pertunangan yang sudah berjalan di masyarakat, bisa bener atau juga salah.

Pertunangan itu sendiri diartikan di masyarakat sebagai ikatan antar dua insan, laki laki dan perempuan. Biasanya, pihak keluarga laki laki akan menjumpai keluarga perempuan untuk menyampaikan maksud dan tujuannya. Dari pertemuan itu, disampaikan jawaban pihak perenpuan. Apabila keluarga perempuan setuju dan menerima, langsung ditetapkan tanggal resepsi acara pernikahannya.

Dengan adanya ikatan ini, diharapkan masing masing pihak bisa saling mempelajari sifat sifat calon suami / istri.  Dan juga, dengan adanya ikatan ini, masing masing pihak tidak berpindah ke lain hati.

Kebaikan yang mungkin bisa diambil dengan adanya ikatan tsb yaitu, persiapan menuju pesta/ resepsi pernikahan akan semakin baik dan matang karena komunikasi nya bisa dilakukan secara intensif.

Namun, terkadang, Komunikasi intensif antar dua insan yg belum mahram yang dilakukan sering menimbulkan efek samping. Banyak calon pasangan tunangan sering merasa kalo pasangannya itu sudah pasti istri/ suami nya. Pasangan tunangan ini malah sering jalan berdua, ngobrol berdua, dll dimana kegiatan tsb dilakukan secara berdua tanpa ada orang lain yg mendampingi. Hal hal seperti ini yg sering dimanfaatkan setan untuk kedua pasangan ini mendekati zina.

Padahal, Allah sudah mengingatkan di Al quran
وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاء سَبِيلاً
"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk." (QS.Al Israa. ayat 32)

Berdua duaan dengan yang bukan muhrim, bisa mrnjurus ke perbuatan zina. Zina sendiri merupakan perbuatan yang dibenci Allah. Mau di benci Allah?

Tunangan itu sendiri bukan sesuatu yang bisa menghalalkan sesuatu yang haram. Hubungan yang halal ditempuh melalui jalan pernikahan yang didalamnya ada ijab kabul dan disaksikan oleh beberapa saksi. Sedangkan tunangan itu sendiri, tidak terdapat ijab kabul.

Ditambah lagi, terkadang orang yang tunangan, memberikan jeda waktu yg terlalu lama untuk lanjut ke pernikahan. Jeda waktu misalnya 3 bulan, 6 bulan atau bahkan 1 tahun berpotensi untuk membelokkan niat. Apa sih yg harus ditunggu sampai lama lama?
Oleh karena itu, alangkah lebih baik, jarak dari tunangan ke pernikahan tidak terlalu lama, demi menghindari zina.

Mudah mudaan tulisan ini menginspirasi


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apakah umat islam menyembah Ka'bah?

Masya Allah, 1400 tahun lalu proses penciptaan manusia sudah diketahui

800.000 TITIK CAHAYA

Cukuplah kematian sebagai pemberi nasehat

Mengenal lebih dekat Ustadz Abdul Somad, Lc, MA